Hai para petualang!
Kita semua tahu perasaan itu: jenuh. Rutinitas Jakarta (atau kota besar mana pun) mulai terasa seperti deja vu yang tiada akhir. Saya, Rio, 25 tahun, seorang programmer yang terlalu banyak melihat layar, akhirnya memutuskan untuk menekan tombol reset yang sesungguhnya. Tujuannya? Eropa. Namun, bukan Paris atau Roma. Saya ingin hilang.
Pencarian saya yang serampangan di Google Maps membawa saya ke sebuah desa kecil bernama Abingdon-on-Thames, di Oxfordshire, Inggris. Sebuah desa kecil, hijau, dan damai yang namanya bahkan belum pernah saya dengar. Sempurna.
Di Balik Kabut Sungai Thames
Perjalanan dimulai dengan kekacauan yang lucu. Saya tiba di stasiun kereta kecil, dan alih-alih bus, yang saya temukan hanyalah jalur setapak yang dikelilingi pagar semak. GPS saya berteriak “Anda telah tiba!”, padahal yang ada hanyalah lapangan rumput.
Justru di sanalah keajaiban Abingdon dimulai.
Saya bertemu dengan seorang Nenek bernama Eliza, yang sedang memanen apel di kebunnya. Dengan logat Inggris yang kental, dia tertawa dan berkata, “Oh, Nak, bus itu hanya beroperasi kalau sedang ada parade Raja. Kau ikut saja aku.”
Eliza menuntun saya menyusuri jalur setapak di samping sungai Thames yang berkabut. Dalam 15 menit berjalan kaki, saya merasa telah meninggalkan 25 tahun hidup saya di belakang.
Pelajaran dari Dinding Batu Tua
Abingdon adalah desa yang seolah beku dalam waktu. Bangunan utamanya adalah sebuah Abbey (Biara) tua yang dinding batunya menceritakan ratusan tahun sejarah. Di sana, saya tidak menemukan kafe hipster yang ramai atau mobil mewah, tetapi saya menemukan sesuatu yang jauh lebih berharga: waktu.
Saya menghabiskan sore-sore saya dengan cara yang tak pernah saya bayangkan:
- Belajar mendayung kano dari seorang pensiunan tukang kayu bernama Mr. Davies.
- Minum ale (bir lokal) di pub tertua di desa, di mana percakapan didominasi oleh prediksi cuaca, bukan harga saham.
- Menulis kode di bangku taman sambil mendengarkan suara lonceng gereja, sebuah irama yang jauh lebih menenangkan daripada notifikasi email.
Pernahkah Anda menyadari bahwa Anda tidak perlu terburu-buru melakukan apa pun? Di Abingdon, saya akhirnya mengerti bahwa produktivitas bukan tentang seberapa cepat Anda bergerak, tetapi seberapa hadir Anda saat bergerak.
✨ Mengapa Kita Perlu Tersesat
Perjalanan ke Abingdon mengajarkan saya hal paling mendasar: Terkadang, hidup yang terbaik dimulai saat rencana Anda gagal.
Saya pergi ke sana untuk mencari ketenangan, tetapi saya menemukan lebih dari itu. Saya menemukan komunitas yang ramah, yang masih saling menyapa di jalan, yang berbagi apel dari kebun mereka, dan yang merayakan setiap hari dengan kesederhanaan.
Sebagai seorang profesional muda, kita sering mengukur kesuksesan dari pencapaian besar: promosi, gaji, atau followers. Namun, Abingdon mengingatkan saya bahwa hidup juga harus diukur dari momen-momen kecil—tawa Eliza, dinginnya air Thames di pagi hari, dan rasa puas saat berhasil mendayung kano lurus untuk pertama kalinya.
Jika Anda merasa lelah, jangan mencari destinasi yang tercantum di setiap list perjalanan. Carilah tempat di mana Anda dipaksa untuk melepaskan kendali.
Tugas saya bukan lagi “memperbaiki kode,” tapi “memperbaiki alur hidup.”
🎒 Ajak Bertindak (Call to Action)
Bagaimana dengan Anda? Apakah ada Abingdon versi Anda yang tersembunyi di suatu tempat? Ambil cuti itu, matikan notifikasi, dan biarkan peta Anda membawa Anda ke tempat yang belum pernah Anda rencanakan.
Ceritakan di kolom komentar: Apa tempat paling tak terduga yang pernah mengubah perspektif hidup Anda?